Tadi siang saya baru saja lihat film terbarunya Mas Hanung, “?”, Tanda Tanya. Entah memang itu judulnya atau memang belum ada judul, soalnya saat beli tiket petugas dari 21 ngasih kertas kecil gitu semacam kuis bagi penonton tentang judul yang pantas untuk film ini, yang pasti film ini memang membuat orang tanda tanya tentang isinya hingga mereka tertarik menonton film ini.
Saya suka kalimat pembuka film ini, saya lupa kalimat persisnya, kurang lebih “Film ini berdasarkan kejadian yang sebenarnya”. Sepanjang perjalanan film ini memang membuat saya teringat akan kejadian kejadian di negeri ini yang menyangkut keberagaman. Film ini berkisah tentang Menuk (Revalina S. Temat), muslimah berjilbab yang bekerja sebagai karyawan restoran cina, milik Tan Kat Sun (Henky Sulaeman) yang sangat menghormati umat agama dan suku lain, termasuk menghormati orang muslim, Tan Kat Sun memiliki anak bernama Hendra (Rio Dewanto) yang pernah memiliki hubungan khusus di masa lalu dengan Menuk. Namun, Menuk lebih memilih Soleh (Reza Rahadian) sebagai pendamping hidupnya daripada Hendra lantaran soleh pemuda yang taat beragama. Menuk mempunyai teman bernama Rika (Endhita) yang memilih untuk meninggalkan Islam setelah bercerai dengan suaminya, tetapi Abi anak Rika tetap teguh menjadi muslim dan dididik dengan cara Islam oleh Rika. Setelah bercerai, Rika dekat dengan Surya (Agus Kuncoro), seorang Muslim yang memerankan tokoh yesus dalam drama paskah di sebuah gereja, pekerjaannya adalah sebagai artis figuran, tapi hidupnya layaknya pengangguran.
Film ini bercerita tentang banyak hal, tentang toleransi umat beragama, toleransi antarsuku, dan kehidupan di Indonesia yang heterogen penduduknya. Banyak hal yang saya suka dari film ini, antara lain sikap pemilik restoran, yang sangat menghormati orang muslim dengan memisahkan alat-alat masak antara yang dugunakan untuk memasak babi dan yang bukan babi, dan Ia memberi waktu karyawannya yang muslim untuk beribadah saat jam kerja. Selain itu, saya suka dengan sikap Abi, walau masih kecil Ia sudah berani bilang tidak suka dan menentang hal yang Ia anggap tidak benar. Misalnya, Abi menentang sikap ibunya yang keluar dari Islam dengan diam dan tidak berbicara pada ibunya, bahkan untuk minum susu saja Abi lebih memilih masuk kamar daripada satu meja dengan ibunya, yang Ia anggap salah. Tiga hari kemudian saat Abi pulang sekolah, Ia menuju toko buku tempat ibunya bekerja, dan terjadi dialog kurang lebih seperti ini,
Rika: Abi sudah ga marah sama Ibu, kan?
Abi: Udah nggak, soalnya kata pak ustaz kalo marahan ga boleh lebih dari tiga hari, nanti dosa
Subhanallah, anak sekecil itu bisa berpikir demikian. Ini mengingatkan saya pada firman Allah Surat Al-Luqman : 15, “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku (Allah) sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Walau Abi membenci sikap ibunya, Abi harus tetap memperlakukan Rika, orang tuanya dengan baik.
Ada juga hal yang saya kurang suka pada salah satu adegan Rika dengan Surya saat Rika membujuk Surya agar mau mengikuti casting untuk peran yesus dalam drama paskah di gereja Rika. kurang lebih seperti ini,
Rika : Ayolah Sur, bayarannya lumayan lho.
Surya : Apa kata orang nanti kalo aku memerankan itu?
Disini Surya lebih takut akan omongan orang daripada ketakutan akan goyanhnya Aqidah agamanya.
Film ini berhasil membuat saya menangis begitu lebai, kata teman saya, saat klimaks yaitu saat Soleh mengikhlaskan nyawanya dalam tugasnya sebagai banser NU saat menjaga gereja pada malam natal. Soleh meninggal akibat ledakan Bom.
Masih banyak lagi adegan di film ini yang mengudang tanda tanya bagi penontonnya, dan tentunya otak penonton akan diajak berpikir keras mengapa suatu adegan begini, atau begitu, dan apa akibatnya di kemudian hari, baik secara horizontal, pada masyarakat, maupun secara vertikal, pada Allah.
Yah, film ini mengingatkan kita untuk melihat sekeliling kita dan berpikir sejenak akan negeri kita yang heterogen ini agar kita tidak mudah dengan begitu mudah menghakimi tindakan seseorang yang kita anggap salah atau benar. Walau begitu, banyak juga pihak yang kontra dengan film ini. Walau saya tidak sepenuhnya setuju denagn apa yang diceritakan film ini, terutama yang berkaitan dengan Aqidah, tetapi film ini benar-benar layak ditonton. Agar kita belajar menilai kejadian-kejadian disekitar kita dengan lebih kritis, bukan hanya dari satu sudut saja. Selamat menonton !! ^^

