Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Oktober 2010

saya anak rantau

Semua ini tak semudah yang saya kira, tak sesederhana yang saya bayangkan selama ini. jd anak rantau, hidup di tempat orang, guna menuntut ilmu. Ternyata, tak hanya ilmu di bangku kuliah yang saya dapatkan. Belajar beradaptasi, hidup sendiri, itu yang paling utama di sini. Jauh dari orang tua, harus mandiri,hidup sendiri, dan rasa tanggung jawab benar-benar diuji di sini. Apa yang kita lakukan di sini pasti akan berdampak bagi diri kita baik jangka panjang maupun jangka pendek. Mengemban amanah dari orang tua agar menjadi orang lebih baik selalu menjadi prioritas utama.

Mungkin dulu saya terlalu menganggap enteng hal ini, tapi sekarang saya sadar. Saya bukanlah apa -apa tanpa orang tua saya. Saya baru sadar betapa manjanya saya ketika di rumah, bersama orang tua saya dan kakak saya. Tapi di sini, siapa yang akan memanjakan saya? Semua orang di sini punya kepentingan masing masing. Sekali lagi, saya bukanlah apa apa tanpa orang tua saya. Dulu saat bangun pagi, saya tak perlu menyiapkan air hangat jika saya ingin air hangat. Ayah saya tidak mau saya mandi kedinginan di daerah tempat tinggal saya yang memang dingin. Ayah saya tak ingin anak perempuan satu satunya sakit. Tapi di sini, jangankan pagi hari, bahkan jika saya mandi jam 11 malam pun tetap air dingin. Yah memang di sini udaranya panas. Tapi suatu ketika waktu saya mandi dan kedinginan, saya teringat ayah saya, betapa manjanya saya ketika dulu di rumah, bahkan saya akan ngambek jika tidak sesuai dengan keinginan saya. Astaghfirullah betapa kurang bersyukurnya saya selama ini.

Saya bukanlah apa-apa tanpa orang tua saya. Terbukti badan saya tak bersahabat di sini. Baru saja sembuh beberapa hari kemudian meriang lagi, sampai saat ini. Mungkin saya masih ingin tinggal di rumah saya. Ketika badan saya capek, pasti ada yang mau mijit saya sampai saya tidur. Jika saya kecapekan dan terjaga di malam hari, ada tempat untuk mengaduh, dan saya diijinkan untuk tidur bersama ibu saya. Tapi di sini? Semuanya harus saya tempuh sendiri. Tak ada yang memijit, apa lagi yang menemani tidur. Urusan makan, saya kira mudah saja ketika saya jauh dari rumah. Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Kalau saya ingin perut saya kenyang, maka saya harus berusaha, entah pergi ke warung atau masak sendiri di dapur. Saya jadi ingat saat di rumah, saya tak pernah memikirkan bagaimana makanan itu datang, pokoknya harus sudah ada. Gitu aja. Dan saya sering ngambek tak mau makan jika saya tidak suka sayur atau lauknya, atau saya ke rumah nenek saya dan makan di sana. Tapi di sini, sayur apapun yang ada di warung dekat kos saya, saya mau. Astaghfirullah, ternyata saya kurang bersyukur selama ini.

Saya juga rindu dengan status saya di rumah sebagai si bungsu dan perempuan sendiri. Sering ketika saya malas pergi membawa motor sendiri, saya tinggal bilang pada mas saya atau ayah saya, saya baru sadar sekarang,ternyata mudah sekali bagi saya untuk menjadi dimanja di keluarga saya. Di sini apa apa harus sendiri, tak ada motor, semuanya harus jalan kaki atau ngangkot. Saya benar benar belajar di sini untuk menanggalkan manja saya dan menjadi mandiri.

Oh ya, saya teringat lagi. Ketika saya di rumah, kalau mau nyuci baju tinggal masukan, putar, bilas, keringkan. Sekarang saya beralih dari era mesin ke era manual. Rendam, kucek kucek, bilas, jemur. Ketika saya di rumah, jika saya capek dan malas mencuci, pakaian bisa bersih sendiri, gmana caranya? Tinggal taruh mesin cuci, pasti dicuci entah oleh ayah atau lbu saya. Di sini kalau masih berprilaku seperti itu, bisa bisa tak ada lagi baju yang bisa saya pakai karena kotor semua. Hehehehe. Ternyata hidup di rumah itu memang enak sekali. Walaupun saya bisa saja memanfaatkan jasa laundry jika saya mau, tapi nampaknya saya lebih sayang pada uang saya hehehe. Saya akui, di sini saya berperilaku layaknya ekonom, bukan berpikir yang tinggi-tinggi, namun menggunakan prinsip ekonomi, dengan pengorbanan yang sedikit dikitnya, saya berusaha mendapatkan manfaat yang sebesar besarnya. Saya kira hampir semua anak kos juga akan seperti ini jika jauh dari rumah. Karena kita mengemban amanah uang dari orang tua kita agar dimanfaatkan sebaik baiknya.

Apa ini yang disebut homesick? Ternyata tidak enak sekali rasanya. Saya benar benar ridu rumah, saya ingin pulang. Tapi saya teringat, saya di sini karena ibu saya dan saya harus benar benar berjuang untuk membuat beliau bangga, membuat beliau tidak kecewa, membuat beliau tidak merasa menyesal karena telah memberi amanah kepada saya.

Inilah hidup. Tak mudah memang untuk menjalaninya, tapi yakin kita akan tersenyum puas ketika memetik hasil kerja keras kita dalam hidup ini. Karena tak ada jalan pintas menuju kesuksesan.

Keep fight vil !!!

30 Oktober 2010, 20:20

-Saat rindu akan orang orang yang ku sayang-

Minggu, 05 September 2010

ini wajar kok

Entah apa yang saya rasakan. Saya juga tak tahu rasa apa ini. Yang jelas dada saya penuh sesak serasa ingin meledak. Ingin saya remas remas wajah orang yang membuat saya seperti i ini, lalu saya makan satu per satu bagian wajahnya, dari hidungnya lalu matanya dan semuanya, tak tersisa satu pun. Tapi niat itu saya urungkan, saya tak ingin terkenal seperti Sumanto, karena biasanya orang terkenal itu repot. Huft.

Intinya saya terganggu dengan rasa ini. Menyebalkan !!!!

Andai dia tahu apa yang saya rasa. Ah dia memang tak tahu apa apa dan tak pandai membaca suasana. Saya benci dia untuk sekarang. Titik.

Tunggu...

Ini mungkin bukan mutlak salah dia, mungkin ini juga salah saya. Saya yang terlalu pemikir sementara dia tak pernah mau mikir ( maaf kalau saya keterlaluan dalam pemilihann kata, karena kalau lagi senep gini sekenanya saja kata kata nya). Saya yang terlalu pemikir ini mengantarkan diri saya sendiri dalam lembah pemikiran sesat. Kenapa sesat?? Yah karena saya mati mati an memikirkan seseorang ( masalah dengan orang maksudnya) yang sama sekali tidak memikirkan saya (menurut saya). Emmmmm mungkin bukan tidak memikirkan saya, tapi memang dia itu tak pernah suka akan hal serius. Dia lebih suka bercanda hahaha hihihi bersama teman temannya, dan teman yang serius itu tidak asyik, menurutnya sih. Oke terserah dia lah. ..

Saya tidak akan memikirkannya saat ini. Ah... tapi saya nulis ini kan juga karna dia. Dasar. Pokoknya saya ingin marah (tapi piye lek nesu yo?). setidaknya dengan saya meluapkannya saya akan lebih tenang (biasane ora ki, tambah ra tenang malah). Tapi saya tidak tahu harus nulis apa. . . malangnya saya. Mau marah pun tak tahu harus gimana.

Oke ... tarik nafas, tahan, keluarkan. Lebih baik sekarang.

Saya ingin dia tak ada di pikiran saya lagi. Saya ingin bebas. Seperti burung di angkasa. Saya jenuh dengan semua ini. Saya stres. Tiap waktu masih saja kepikiran. Saya ingin mulai hidup saya dari NOL. Benar benar nol. Yah saya berharap dengan suasana tempat belajar saya yang baru , suasana tempat tinggal saya yang baru nanti saya akan benar benar terlepas dari dia. Oke saya memang tak terikat dengan dia, tapi pikiran dan hati saya masih belum bisa plong. Masih sering terpikir, masih merasa bersalah juga. Saya ingin mengakhirinya. Benara benar berakhir. Tapi berakhir dengan cara baik baik. Niat saya sudah baik(menurut saya) tapi nampaknya dia tidak merespon sedikitpun (mungkin merespon, tapi Cuma sedikit sekali ). Saya seperti ini sudah dua kali. Niat untuk menutup kisah ini dengan ending yang pasti dan baik baik, dan kedua duanya di balas dengan sikap innocent seperti tak ada apa apa (atau mungkin dia memang tak tahu ya?? Entahlah). Dan kedua dua nya di selimuti hujan deras di endingnya. Hujan di badan saya, hati dan pipi. Baru dua kali kok, belum tiga. Kalo tiga kali kan dapet piring cantik J. Ah tapi saya tak mau dapat piring cantik dengan cara yang menyakitkan ini.

Saya tiba tiba teringat dengan kata kata teman saya yang biasanya oneng, tapi waktu itu dia bijak sekali (menurut saya lho). Teman saya itu bilang ‘ yo ngno kui rasane loro ati. Loro ati ki yo ngno kui. Ha meh piye meneh?? Mungkin kono yo loro ati lho mbek kowe”

Oke kali ini saya luluh dengan teman saya yang biasanya oneng ini. Dia mungkin juga sakit hati karna saya. Sakit hati memang sakit (yaeyalah). Dan itu wajar.

Cukup ah . mungkin ini memang wajar. Yah wajar ada prahara menghampiri hati anak seusia saya. Yah

WAJAR.

Jadi kenapa pusing?? Orang lain mungkin punya hal yang menyesakkan dada juga seperti saya. Dan ternyata hidup mereka tetap berjalan seperti seharusnya. Dan mereka bisa menggapai cita cita mereka. Jadi, SAYA PUN BISA. Bisa memulai hidup baru saya dan menggapai cita cita saya.


amin

Jumat, 30 Juli 2010

pojok kamar ghea : Aku Percaya

abis baca post nya ghea di http://ghearestuandri.blogspot.com yang judulnya saya jadikan judul post ini, tiba tiba merembes ni mata. lebay ga sih? atau saya memang sangat mudah meneteskan air mata ktka saya ingat akan sesuatu yang pernah menyesakan dada saya?
entahlah.mungkin saya memang begini adanya



ummmmm
benernya, tadi malam saya juga mengalami hal yang sama. nangis. bedanya, kali ini saya menitikan air mata ketika saya selesai membaca post nya ghea, sedangkan tadi malam saya tidak tahu apa alasan saya menangis. yang saya ingat, saya terjaga tengah malam dari tidur saya dalam keadaan menangis. benar benar aneh, memang dulu waktu kecil saya sering seperti ini. saya bangun dari tidur saya sudah menangis kencang sekali dan ibu saya sedang menenangkan saya yang lagi nangis. saya juga tidak tahu kenapa tiba tiba nangis. ga mungkinlah saya tanya ibu saya knp saya bisa nangis, orang ibu saya justru bilang " ngapa ta kok ujug ujug nangis? karepe piye? matur, aja nangis terus" . karena bingung dan gengsi kalo tiba tiba saya berhenti menangis,, maka saya mencari alasan yang rasional. seingat saya, saya bilang "ayo ning mak ji!pokok e aku pengin ning mak ji !saiki !" ssekedar info, mak ji itu panggilanku untuk mbah putriku.


oke itu saya umur 2 - 3 tahun. tapi kali ini? saya tiba tiba terbangun dan menangis dengan perasaan bersalah yang amat sangat. sayangnya saya lupa mimpi apa saya semalam. teman sata berkomentar "beberapa kisah mungkin kembali padamu menagih sesuatu yg engkau lupa...". teringat saya pada orang orang yang saya kenal. apa iya saya punya "hutang" pada mereka atau salah satu dari mereka? semoga Allah lekas memberi petunjuk pada saya. bagi siapa saja yang merasa saya punya "hutang" dengan anda, katakanlah. saya akan berusaha untuk melunasinya. ataukah saya punya salah dengan mereka? semoga Allah memberi petunjuk agar saya dapat meminta maaf dengan orang tersebut. bagi yang ngrasa pernah tersakiti oleh saya, siapa saja,saya minta maaf.

kembali lagi soal postnya ghea.
kenapa di akhir post nya hati saya tersentuh?
(bagi yang sudah baca, mungkin akan lebih faham. bagi yang belum mbaca, saya sarankan untuk membaca.)
bukan karena saya juga lagi melow kayak ghea.
tapi justru kata kata di akhir curhatannya lah yang mengingatkan saya pada sesuatu


Bila aku mengatakan bahwa AKU PERCAYA, maka aku akan mempercayainya, dan tidak ada rasa tidak percaya ataupun curiga sedikitpun.


dari dulu saya berusaha memegang prinsip itu. saya selalu mencoba untuk percaya pada semua orang, karena saya juga ingin jadi orang yang dipercaya. saya akan berusaha untuk selalu jujur, karena saya PALING TIDAK SUKA DIBOHONGI. dari kecil saya ga mau dibohongi. oleh karena itu saya menganggap apa yang orang katakan pada saya itu semuanya benar, tidak bohong. saya percaya pada semua orang. tapi itu dulu ktka saya masih kecil. setelah orangtua saya bilang "jangan mudah percaya pada orang yang ga kamu kenal betul" saya kemudian memilah milah "kata orang". dan jika saya sudah mengatakan saya percaya maka tidak hanya mulut saya, namun juga hati saya akan percaya.
jika saya mendengar sesuatu yang saya ragukan, sebisa mungkin saya tanyakan. dan jika saya berhenti bertanya, berarti hati saya sudah percaya.
saya menikmati prinsip saya ini. semua berjalan dengan baik sejalan dengan prinsip saya ini


sampai suatu ketika seorang teman saya mengatakan sesuatu hal. bad news lah. karena saya percaya dengan teman saya itu, maka saya percaya dengan apa yang dikatakannya. saya masih memegang prinsip saya. walau pahit, namun saya ambil hikmahnya, saya introspeksi diri saya dan saya mencoba berubah untuk menjadi lebih baik. dan ternyata dari kata teman saya itu munculah konflik pada saya dan kehidupan saya. kemudian saya meminta pertanggungjawaban teman saya tadi. bukan untuk mengatasi masalah saya. bukan. saya hanya butuh jawaban ya atau tidak ketika saya bertanya " hal yang kau katakan tempo hari itu benar adanya kan teman?"
bukan jawaban ya atau tidak yang saya dapatkan, namun kata kata yang entah pantas disebut sebagai jawaban atas suatu pertanyaan atau tidak. "saya tidak mau ikut campur lagi, saya tidak mau ikut ikut an". remuk hati saya, serasa ada alat berat yang menghujamkan besi 10 ton ke tubuh ini, tepat di hati saya. hati saya hancur. ingin rasanya saya berteriak dengan keras di depan matanya dan bilang "SAYA HANYA BUTUH JAWABAN YA ATAU TIDAK, COBALAH JADI ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB, SETIDAKNYA KALI INI SAJA. SAYA SELALU PERCAYA KAMU, ANDAI KAMU TAHU" sayang itu hanya angan angan saya.

lemas tubuh saya, berceceran hati saya menjadi keping keping, goyah pendirian saya akan prinsip tadi.

pikiran saya tak mampu berpikir jernih, hanya emosi saja yang ada di otak saya ini. sedikit hati kecil saya yang masih berfungsi kala itu berbisik "saya tidak mau membenci teman saya" .

setelah lama pikiran saya kacau, akhirnya saya mengingat semua kebaikan teman saya tadi dan sampe sekarang saya tidak membencinya sedikitpun. saya bersyukur

hati saya goyah, masihkah perlu prinsip itu saya pegang erat?


perlu



suatu ketika lagi saya percaya dengan teman saya,tapi beda orang dengan yang diatas.tempo hari dia pernah bilang "aku percoyo novil ki uwonge dudu sing ngomong sembarangan". senang sekali tahu hal itu. semakin memantapkan hati saya. saya akan menjaga keperyaanmu dengan baik teman. insyaallah.

sampe suatu hari ada masalah diantara kita , masalah tau apa lah, mungkin suatu hal karena kurang terus terang saja. kemudian dia akhirnya berterus terang dan bertanya pada saya tentang suatu hal. saya jawab setahu saya. dan dia berkata "aku percoyo kowe kok vil". begitu pula saya berkata "aku yo percoyo kowe owk"



tapi dari sikapnya, saya menyimpulkan bahwa dia belum sepenuhnya percaya pada saya. entah ini hanya pikiran saya atau memang benar adanya.
saya ikhlas kalo memang saya belum pantas dia percaya. tapi kenapa dia harus berkata "aku percoyo kowe kok vil". dan ketika saya minta sedikit saja penjelasan, tak ada penjelasan sedikitpun. dan dia berharap saya tidak memikirkan hal ini lagi. sekali lagi ada alat berat yang menghujam tubuh ini dengan bola besi yang amat berat, tidak 10 ton lagi, mungkin 100 ton atau lebih beratnya. tepat di hati saya. remuk lagi hati saya. kali ini tak hanya jadi keping keping hati saya, namun tak berwujud lagi mungkin. hancur.


masih perlukah saya pegang erat prinsip saya?


(mungkin)perlu















dan akhirnya saya bertemu dengan teman saya yang rasional sekali pemikirannya. saya percaya dengan dia dan apa yang dikatakannya.
dia memberi saya kabar baik,hingga hati saya berbunga bunga. layaknya bunga lili segar yang tumbuh di gurun sahara. menyejukan sekali.
"apa benar?"
"ealah, ra percoyo?"
saya percaya pada teman saya yang ini, terutama tentang kabar baiknya yang menyejukan.
sampai pada kesekian kali pertanyaan saya, saya masih bertanya "tenanan?"
"ora. aku ngapusi. benere aku ra ngerti mung asal ngomong wae, ket mau kowe ki tak apusi"
hancur lagi hati saya, sudahlah saya tidak mau bercerita bagaimana rasanya.
saya bilang padanya "kowe oleh ngguyoni aku, tapi aju njaluk, aja ngapusi aku !!"

sakit memang, namun teman saya kali ini membuka mata hati saya. saya sering gelap mata dan memperayai semua yang ada. dari dia saya tahu, sebelum percaya dengan kata kata seseorang, saya harus benar benar tahu bahwa orang itu memang benar benar tahu dengan apa yang dia katakan.
kata kata nya yang masih terngiang di telinga saya "aku kan yo ra patio cedhak karo kowe,ktemu we ya jarang. so, piye aku iso ngerti tentang awakmu? tentang kabar baik mau kuwi bener po ra! tolol kowe"
dia mengatakannya tidak dengan mata melotot seperti di sinetron, tidak seperti itu. dia mengatakannya sambil tertawa.
sakit rasanya tapi terima kasih karena anda saya jadi lebih hati hati . anda memang teman yang terlalu rasional.


lalu bagaimana kabar prinsip saya??
masih perlukah saya memegang erat prinsip saya tadi??

Bila aku mengatakan bahwa AKU PERCAYA, maka aku akan mempercayainya, dan tidak ada rasa tidak percaya ataupun curiga sedikitpun.

PERLU

Senin, 26 Juli 2010

Rejeki manis di tengah gerimis

Hari minggu biasanya orang pada liburan bareng kluarga, ato kumpul ma temen ato mojok ma pacar bagi yang punya pacar sih , sayangnya saya belum punya (atau mungkin tidak hehehe). Bagi saya hari hari sekarang rasanya minggu terus. Ampe ampe saya lupa hari apalagi tanggal, maklum jadi pengangguran. Orang sekolah aja kadang lupa hari ga tau tanggal owk. Bagi teman teman saya yang “digaji” tiap minggu pasti inget ma hari, bagi yang “digaji” tiap bulan pasti inget tanggal, lha saya?? Boro boro “digaji” tiap minggu, pokoknya prinsip emak saya “no school no money”. Jadi ya yang saya inget, hari ini masuk sekolah ga, kalo masuk bearti penghasilan saya lancar. Hahahaha pelajar macam apa saya ini. Uang mulu yang ada di otak saya. Mungkin teman sekolah saya mengangguk dengan argumen saya barusan. Lha wong saya di kelas jadi salah satu murid “telatdan” hahahaha. Kayak ga niat sekolah aja. Benernya niat berangkat pagi sih udah ada di hati. Tapi apa mau dikata dengan tak dinanya nanya ada ada saja halangan yang menerpa (cielah bahasanya). Misalnya, angkot yang lama tak kunjung muncul, atau angkotnya udah muncul tapi si abang sopir punya sifat mulia “sabar” jadi jalannya pelan banget sambil nunggu rejeki dateng. Si abang sih ga tau gimana anak sekolah yang lagi buru buru mengejar waktu, serasa belanda di belakang telinga. Lalu mengapa saya masih kekeuh pada alat transportasi rakyat ini? Kenapa ga naik motor? Alasannya sudah cukup jelas, emak bapak saya dan abang abang saya terlalu cinta pada saya. “pokoke ra oleh nggwo motor ning sekolah, mengko ndak kesel, mengko ndak dolan terus, mengko nek ning ndalan ana apa apa piye?, dalanan rame. Nek les bali mbengi pa wani ngepit dwe tekan grabag petheng ndedhet ngno? Nek dicegat uwong njuk dirampok piye? Blablablabla...”. memang tak ada alternatif lain kecuali alat transportasi rakyat, angkot. Ah.. ga baik menyalahkan keadaan. Emang saya nya aja yang ga tenanan buat berangkat pagi. Hahahaha

Saya malah jadi nggladrah.... hari ini seperti biasanya, Cuma males males an di rumah, kalo lagi kumat rajinnya ya ngepel, nyuci, nyetrika, berkebun, dkk. Tapi kalo lagi males ya Cuma nonton tipi, makan, tiduran, benar benar program penambah berat badan. Oia masa masa pengangguran ini saya justru menikmati peran saya sebagai pengasuh bayi. Tiap pagi ada makhluk kecil tak berdosa yang datang lewat pintu depan atau belakang rumah. Dia lah Ninin. Anak tetangga sih, tapi udah kayak adek sendiri, lengket deh sama saya. Kayak barusan, bapak saya naik ke kamar saya sambil nggendong makhluk kecil tak berdosa tadi, katanya Ninin nyari mbak opi yang tak lain dan tak bukan adalah saya. Yah ga siang ga malem tep ajah jadi pengasuh bayi. Tapi saya sangat menikmatinya. Kayak gni lah nasib si bungsu yang memimpikan punya adik.
Oke niat saya nulis tuh mau crita tentang hari ini. Sebenernya pagi pagi ada yang ngajakin makan di luar, eh ga pagi dhenk. Jam 11 an tapi berhubung saya belum mandi dan jarak tempat makan ke rumah jauh, jadi mending saya bilang ga usah ajah, kasihan nunggunya ntar. Ga enak juga sih nolak, soalnya mamanya teman saya juga ngajak, bilang kalo mau teko dateng aja ntar ditungguin. Tapi saya putuskan tidak usah saja lah kasihan nunggunya. Ngrepotin juga.
Jam 2an emak saya ngajak saya ke Bedono. Ke tempat temennya yang suka jual beli kayu klengkeng ma bapak emak saya. Daripada cuma males malesan dirumah yaudah deh saya mau saja. Singkat crita nyampe tujuan. Begitu turun dari alat transportasi rakyat, waw... saya di depan pondok pesantren sekaligus rumahnya Syekh Puji. Subhanallah.. megah nian ni bangunan (walau cuma kelihatan pagernya sih) dan koleksi mobil mobil nya pun nampak dari pinggir jalan. Waw.. keren keren mobilnya. Yang membuat saya takkjub adalah bukan mobilnya, melainkan pagarnya (soalnya emang yang paling ketara ya cuma pagarnya sih) megah nian, dan subhanallah, di pagarnya ada ukiran ayat ayat suci Al-Qur’an. Ga begitu jelas sih soalnya kecil kecil. Tulisan yang mampu terbaca oleh mata saya adalah lafadz YaaSiiin yang tertulis arab tentunya. Saya dan emak saya bukan mau ndatengi syekh puji, tapi ke rumah di seberang rumah Syekh Puji. Rumah ini tak kalah menariknya. Banyak hal unik. Seperti meja dari akar kayu klengkeng, rak dari akar kayu klengkeng, dan yang unik lagi ada naga besar di rumah ini, dari kayu klengkeng juga tentunya. Oia tak cuma kayu klengkeng yang bersarang di rumah ini. Ayat ayat suci pun tergantung indah di dinding ruang tamu ini. Yang tertangkap oleh mata saya sih ada 3, saya lupa surat apa saja, namun yang paling dekat dengan tempat saya duduk adalah kuningan besar yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahiim besar dan dihiasi asmaul husna disekelilingnya. Indah sekali. Ternyata eh ternyata teman emak saya ini pria single parents sejak lama karena cerai. Eits dia bukan calon bapak baru saya tapi, emak saya dan saya masih sayang sama bapak saya. Setelah ngobrol tentang bisnis selesai, mulailah ngobrol soal anak. Ternyata anaknya si bapak ini ada yang seumuran saya, cewe pula. Tapi katanya si anak ini nakalnya minta ampun. Ga baik ah ngomongin orang di sini. Oke critanya udah pulang nih dari rumah temannya emak saya ini. Nah kami lalu mampir ke pasar grabag yang dalam proses renovasi nih. Udah ada yang jadi sih sebagian. Pasarnya berubah, semula yang bejek sesak tak nyaman, sekarang jadi lebih enak dipandang dan enak untuk dijelajahi. Karena emak saya kebetulan juga punya kios atau apa ya namanya, pokoknya punya tempat di pasar grabag lah, jadi sekalian survei aja. Semenjak kecelakaan 3 taun lalu emak saya emang udah ga menghuni nih kios, dikontrakin biasanya. Dan emak saya jualan roti ma makanan ringan di rumah saja. Kalo ke Grabag jangan lupa mampir mampir yah, deket kok ma pom bensin (malah promosi). Menghadapi lebaran ini kios pasar ga dikontrakin lagi, tapi dipake ponakan emak saya buat dagang roti dan makanan ringan. Kami muter muter pasar, menjelajahi semua isinya. Karena udah sore jadi udah ga rame sih. Di sana sini emak saya ketemu rekan seperjuangannya di pasar, ada yang dapet kiosnya jadi sempit, ada yang tempatnya strategis, ada yang nyelempit, bahkan ada yang belum kebagian kios. Memang ssetelah dibangun, semua posisi pedagang berubah. Ukurannya pun berubah. Punya emak saya yang dulunya 6meter saja menjadi 5 meter. Ada yang dulunya 30 meter jadi 18 meter. Saya juga tidak tahu mengapa bisa pada nyusut kios pedagang ini. Masih mending kalo cuma nyusut, ada yang udah 3 tahun nunggu sampe sekarang belum dapet jatah, ada pula yang belum dibongkar kios lamanya tapi justru sudah dapet kios baru. Ada pula pedagang kecil tak resmi yang tak boleh jualan lagi di pasar. Ckckckck keadilan di negeri ini memang patut dipertanyakan.
Setelah capek muter muter, kemudian beli jajanan pasar. Ada ketan lopez ada nagasari, ada petotan, ada pula gorengan. Hehehe.....kami memutuskan untuk jalan kaki dari pasar ke rumah, itung itung jalan jalan lah. Awalnya menyenangkan karena sepanjang perjalanan banyak jajanan. Saya suka ini, hehehe.. tapi tak lama kemudian hujan turun. Untung bawa payung. Nah di sini nih hal yang paling mengesankan di hari ini. Saya bertemu dengan seseorang. Tiba tiba wajah orang tersebut pas di depan saya. Pas banget. Dheg dheg dheg rasanya. Dia pun menyapa “mbak novi... saking pundi?” waw.. dia masih ingat sama saya. Senangnya hati ini. Karena gugup saya agak lama menjawabnya hingga dia telah berlalu baru ku jawab “saking wetan mas” duh, kacau banget saya ini. Hanya dari mata saja bisa membuat hati risau, pikiran tak tentu arah gini. Sampe rumah saya masih senyam senyum saja karena bertemu dengan orang yang tlah lama tak berjumpa dan memang ingin sekali saya temui. Walau dia sudah ada yang punya. Walau Cuma singkat sih. Tapi gapapa itung itung rejeki buat hari ini di tengah gerimis. Alhamdulillah...hihihihi jadi ga nyesel pulang dari pasar jalan kaki. :D

Ni nulisnya minggu malem
Tapi baru bisa ngepost senin pagi