Entah apa yang saya rasakan. Saya juga tak tahu rasa apa ini. Yang jelas dada saya penuh sesak serasa ingin meledak. Ingin saya remas remas wajah orang yang membuat saya seperti i ini, lalu saya makan satu per satu bagian wajahnya, dari hidungnya lalu matanya dan semuanya, tak tersisa satu pun. Tapi niat itu saya urungkan, saya tak ingin terkenal seperti Sumanto, karena biasanya orang terkenal itu repot. Huft.
Intinya saya terganggu dengan rasa ini. Menyebalkan !!!!
Andai dia tahu apa yang saya rasa. Ah dia memang tak tahu apa apa dan tak pandai membaca suasana. Saya benci dia untuk sekarang. Titik.
Tunggu...
Ini mungkin bukan mutlak salah dia, mungkin ini juga salah saya. Saya yang terlalu pemikir sementara dia tak pernah mau mikir ( maaf kalau saya keterlaluan dalam pemilihann kata, karena kalau lagi senep gini sekenanya saja kata kata nya). Saya yang terlalu pemikir ini mengantarkan diri saya sendiri dalam lembah pemikiran sesat. Kenapa sesat?? Yah karena saya mati mati an memikirkan seseorang ( masalah dengan orang maksudnya) yang sama sekali tidak memikirkan saya (menurut saya). Emmmmm mungkin bukan tidak memikirkan saya, tapi memang dia itu tak pernah suka akan hal serius. Dia lebih suka bercanda hahaha hihihi bersama teman temannya, dan teman yang serius itu tidak asyik, menurutnya sih. Oke terserah dia lah. ..
Saya tidak akan memikirkannya saat ini. Ah... tapi saya nulis ini kan juga karna dia. Dasar. Pokoknya saya ingin marah (tapi piye lek nesu yo?). setidaknya dengan saya meluapkannya saya akan lebih tenang (biasane ora ki, tambah ra tenang malah). Tapi saya tidak tahu harus nulis apa. . . malangnya saya. Mau marah pun tak tahu harus gimana.
Oke ... tarik nafas, tahan, keluarkan. Lebih baik sekarang.
Saya ingin dia tak ada di pikiran saya lagi. Saya ingin bebas. Seperti burung di angkasa. Saya jenuh dengan semua ini. Saya stres. Tiap waktu masih saja kepikiran. Saya ingin mulai hidup saya dari NOL. Benar benar nol. Yah saya berharap dengan suasana tempat belajar saya yang baru , suasana tempat tinggal saya yang baru nanti saya akan benar benar terlepas dari dia. Oke saya memang tak terikat dengan dia, tapi pikiran dan hati saya masih belum bisa plong. Masih sering terpikir, masih merasa bersalah juga. Saya ingin mengakhirinya. Benara benar berakhir. Tapi berakhir dengan cara baik baik. Niat saya sudah baik(menurut saya) tapi nampaknya dia tidak merespon sedikitpun (mungkin merespon, tapi Cuma sedikit sekali ). Saya seperti ini sudah dua kali. Niat untuk menutup kisah ini dengan ending yang pasti dan baik baik, dan kedua duanya di balas dengan sikap innocent seperti tak ada apa apa (atau mungkin dia memang tak tahu ya?? Entahlah). Dan kedua dua nya di selimuti hujan deras di endingnya. Hujan di badan saya, hati dan pipi. Baru dua kali kok, belum tiga. Kalo tiga kali kan dapet piring cantik J. Ah tapi saya tak mau dapat piring cantik dengan cara yang menyakitkan ini.
Saya tiba tiba teringat dengan kata kata teman saya yang biasanya oneng, tapi waktu itu dia bijak sekali (menurut saya lho). Teman saya itu bilang ‘ yo ngno kui rasane loro ati. Loro ati ki yo ngno kui. Ha meh piye meneh?? Mungkin kono yo loro ati lho mbek kowe”
Oke kali ini saya luluh dengan teman saya yang biasanya oneng ini. Dia mungkin juga sakit hati karna saya. Sakit hati memang sakit (yaeyalah). Dan itu wajar.
Cukup ah . mungkin ini memang wajar. Yah wajar ada prahara menghampiri hati anak seusia saya. Yah
WAJAR.
Jadi kenapa pusing?? Orang lain mungkin punya hal yang menyesakkan dada juga seperti saya. Dan ternyata hidup mereka tetap berjalan seperti seharusnya. Dan mereka bisa menggapai cita cita mereka. Jadi, SAYA PUN BISA. Bisa memulai hidup baru saya dan menggapai cita cita saya.
amin
OoO?
BalasHapusini candra.... hehehey...