Kulihat bangku di bawah pohon rindang yang tak disinggahi mengundangku untuk berhenti sejenak menikmati pagi ini di sana.
Suara burung bercicit, gesekan daun, dan angin beradu menghasilkan harmoni yang menentramkan
Jiwaku serasa ringan sembari melepas lelahku akan berbagai macam tugas yang telah terakumulasi
Sampai mataku tergoda dengan titik berwarna ungu yang semakin membesar pertanda ia semakin mendekat
Aku tersadar titik ungu itu adalah sesekor kupu kupu berwarna ungu yang terbang menghampiriku
Semakin dekat, kurasa aku tahu siapa kupu kupu ungu itu
Dia lah kupu kupu nan ayu sahabatku
Seperti biasa ia nyaman betengger di jari-jari tangan kiriku
Dan masih seperti dulu aku nyaman membelai sayapnya dengan tangan kananku
“sahabatku, lama kita tak bertemu, kau masih sahabatku yang dulu, kupu-kupu berwarna ungu, tapi kulihat kau mulai layu kenapa kau tak tampak ayu seperti dulu?”
“aku masih sahabatmu, aku masih kupu-kupu, aku masih berwarna ungu, dan aku masih ayu, hanya saja aku tak lagi indah seperti dulu”
“adakah suatu hal yang membuatmu tak seperti dulu?”
“ya, aku berubah. Aku ingin kehidupan yang baru, seperti kawan-kawanku yang lain, kupamerkan keindahanku kepada semua orang, sekali lagi aku ingin seperti kawan-kawanku, dipuja karena ayu”
“dari dulu kau sudah ayu, justru kau paling ayu dari semua kawanmu”
“ya, hanya kau yang tahu hal itu, aku ingin semua orang tahu aku ini ayu, sehingga kupamerkan semua yang aku miliki, anugrah Illahi ini, kepada semua orang yang aku temui”
“lalu, sekarang kau sudah seperti kawan-kawanmu? Diakui keayuanmu oleh semua orang yang kau temui?”
“ya”
“lalu kenapa kau justru bilang kau tak indah lagi?”
“awalnya aku nikmati semua ini tapi lama lama aku merasa layu”
“mengapa?”
“karena orang ingin memiliki keayuanku, aku dianggap sama seperti kupu-kupu kebanyakan”
“bukankah itu yang hendak kau tuju sahabatku?”
“ya, awalnya begitu tapi ternyata orang hanya menganggapku sebagai hiasan, mereka senang melihatku dan mempermainkan aku. Aku serasa tak berharga dipandang seperti itu, mereka tidak memandang lebih dalam pada diriku”
“bukankah kau memang ingin berubah menjadi seperti kawanmu yang terlihat ayu saat dipandang?”
“ya, tetapi kini ku sadar bahwa aku lebih merasa indah di saat dulu, aku meras lebih berharga di saat dulu, saat orang orang tak memujaku hanya karna aku indah dipandang, aku lebih meras bernilai saat orang sepertimu tahu bahwa aku ini kupu-kupu ayu tanpa kupamerkan keayuanku”
“jadi kini kau ingin kembali seperti dulu? ”
“iya. Tapi nasi telah menjadi bubur sahabatku. Satu pesanku untukmu, hidup itu pilihan setiap pilihan itu berbeda beda konsekuensinya, tapi setiap pilihan itu dipilih karena tujuan yang sama dari pemilihnya, yaitu ingin menjadi lebih baik. Sebelum engkau memilih, pastikan pilihanmu itu memiliki konsekuensi yang sesuai dengan tujuanmu kecuali kau ingin menyesal seperti aku”
“terima kasih sahabatku, walau kau kini berubah, bagiku kau tetap sahabatku, kupu-kupu berwarna ungu yang masih ayu. Tak perlu kau pamerkan keindahanmu pada semua orang, kau tetap ayu, justru kau lebih berharga dan bernilai saat tak semua orang bisa menikmati keindahanmu dengan mudah”
Sayap ungunya berkepak lebar dan dia terbang meninggalkanku, entah karena malu atau apa yang jelas kulihat dia lebih bersemangat daripada saat dia datang tadi. Ah ada yang lupa aku katakan padamu sahabat, aku amat merindumu.
Taman CD
14 Juli 2011 , 09:28
Kurindu kehadiranmu yang ayu seperti dulu, sahabatku